Skip to content
● Selamat Datang Peserta Pendaftaran Siswa Baru di Kampus Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional SMA Negeri 1 Boja ● Selamat Datang Peserta Bimtek R-SMA-BI di Kampus SMA Negeri 1 Boja ● Judul berita yang dimuat SUARA MERDEKA, Jum'at, 8 Mei 2009, tentang beredarnya video porno siswi setelah dilakukan identifikasi oleh POLRES Kendal dinyatakan TIDAK BENAR, dan kami minta kepada SUARA MERDEKA agar memohon maaf kepada SMA N 1 Boja atas berita yang mencoreng nama baik SMA N 1 Boja ● SMA NEGERI 1 BOJA MENUJU RSBI ● Selamat kepada Pamungkas Bagus siswa kelas XII IPA.2 SMA Negeri 1 Boja, atas prestasinya dalam OSN Biologi di Makasar, memperoleh Medali Emas ● Selamat kepada Tim Hockey SMA Negeri Boja atas Prestasinya sebagai Juara I dalam Invitasi Hockey antar club se Jawa dan Sumatera di Bandung ● Tim PASKIBRAKA SMA Negeri 1 Boja meraih Juara I Tingkat Propinsi Jawa Tengah di GOR Jatidiri Semarang (15 Mei 2008) ● Selamat kepada Tim Hockey SMA Negeri 1 Boja atas prestasinya sebagai Juara I dalam Kejuaraan Nasional Hockey di Bandung ● ELINA RISTI MAULIDA Juara I Lomba Debat Bahasa Inggris Pekan Olah Raga dan Seni Mahasiswa Pelajar dan Taruna (PORSIMAPTAR) di AKPOL Semarang (13 Mei 2008) ● FIDHA FARDANI (kelas XI IPA.2) Juara II Lomba Gambar Poster Pekan Seni Pariwisata yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Kendal, Kamis, 24 April 2008 di Pendopo Kab. Kendal ● SMA Negeri 1 Boja Juara III Lomba Cerdas Cermat UUD 45 Tingkat SLTA Se Indonesia di Propinsi Jawa Tengah (11 April 2008) ● 4 Siswa SMA Negeri 1 Boja diterima di IPB melalui jalur USMI (11 April 2008) ● Minggu ini Pengawa SMA dari Dinas Pendidikan dan Olah Raga Kendal akan berkunjung ke SMA Negeri 1 Boja untuk memeriksa berkas Sertifikasi para Guru yang telah lolos pada seleksi masa kerja (7 April 2008) ● Selamat kepada Tim Basket SMA Negeri 1 Boja, yang telah berlaga di POPDA Kab. Kendal dan meraih Juara III Putra dan Putri (7 April 2008) ● SMA Negeri 1 Boja Juara Umum Olympiade Seni dan Budaya STIKES Kendal ● Selamat mengerjakan soal mid semester kepada seluruh siswa SMA Negeri 1 Boja (7 April 2008) ● 22 Guru SMA Negeri 1 Boja Lolos seleksi awal Sertifikas (29 Maret 2008) ● 40 Siswa SMA Negeri 1 Boja diterima SPMU Universitas Negeri Semarang ( UNNES ) ● Tim Basket Putra dan Putri SMA Negeri 1 Boja Juara I di tingkat eks kawedanan Boja dan melaju ke POPDA di tingkat Kabupaten Kendal ● Tim Voli Putri SMA Negeri 1 Boja Juara I di tingkat eks kawedanan Boja dan berhak mengikuti kejuaraan POPDA di tingkat Kabupaten Kendal ●
header.jpg
Posisi Anda : Home arrow Artikel arrow Matematika arrow Mitos Matematika
Mitos Matematika Buat halaman ini dlm format PDF Cetak halaman ini
Peringkat User: / 2
PoorBest 
Ditulis oleh Webmaster   
Rabu, 04 Juli 2007
Dikemukakan Frans Susilo dalam artikelnya di Majalah BASIS yang berjudul Matematika Humanistik, bahwa kebanyakan sikap negatif terhadap matematika timbul karena kesalahpahaman atau pandangan yang keliru mengenai matematika. Untuk memahami matematika secara benar dan sewajarnya, pertama-tama perlu diklarifikasi terlebih dahulu beberapa mitos negatif terhadap matematika. Beberapa di antara mitos tersebut, antara lain:
  1. Anggapan bahwa untuk mempelajari matematika diperlukan bakat istimewa yang tidak dimiliki setiap orang. Kebanyakan orang berpandangan bahwa untuk dapat mempelajari matematika diperlukan memiliki kecerdasan yang tinggi, akibatnya yang merasa kecerdasannya rendah mereka tidak termotivasi untuk belajar matematika.
  2. Matematika adalah ilmu berhitung. Kemampuan berhitung dengan bilangan-bilangan memang tidak dapat dihindari ketika belajar matematika. Namun, berhitung hanya merupakan sebagian kecil dari keseluruhan isi matematika. Selain mengerjakan penghitungan-penghitungan, orang juga berusaha memahami mengapa penghitungan itu dikerjakan dengan suatu cara tertentu.
  3. Matematika hanya menggunakan otak. Aktivitas matematika memang memerlukan logika dan kecerdasan otak. Namun, logika dan kecerdasan saja tidak mencukupi. Untuk dapat berkembang, matematika sangat membutuhkan kreativitas dan intuisi manusia seperti halnya seni dan sastra. Kreativitas dalam matematika menyangkut akal-budi, imajinasi, estetika, dan intuisi mengenai hal-hal yang benar. Para matematikawan biasanya mulai mengerjakan penelitian dengan menggunakan intuisi, dan kemudian berusaha membuktikan bahwa intuisi itu benar. Kekaguman pada segi keindahan dan keteraturan sering kali juga menjadi sumber motivasi bagi para matematikawan untuk menciptakan terobosan-terobosan baru demi pengembangan matematika. Atau dengan kata lain untuk dapat mengembangkan matematika tidak hanya dibutuhkan kecerdasan menggunakan otak kiri saja, melainkan juga harus mampu menggunakan otak kanannya dengan seimbang.
  4. Yang paling penting dalam matematika adalah jawaban yang benar. Jawaban yang benar memang penting dan harus diusahakan. Namun, yang lebih penting sebenarnya adalah bagaimana memperoleh jawaban yang benar. Dengan kata lain, dalam menyelesaikan persoalan matematika, yang lebih penting adalah proses, pemahaman, penalaran, dan metode yang digunakan dalam menyelesaikan persoalan tersebut sampai akhirnya menghasilkan jawaban yang benar.
  5. Kebenaran matematika adalah kebenaran mutlak. Kebenaran dalam matematika sebenarnya bersifat nisbi. Kebenaran matematika tergantung pada kesepakatan awal yang disetujui bersama yang disebut ‘postulat’ atau ‘aksioma’. Bahkan ada anggapan bahwa tidak ada kebenaran (truth) dalam matematika, yang ada hanyalah keabsahan (validity), yaitu penalaran yang sesuai dengan aturan logika yang digunakan manusia pada umumnya.

Tidak bermaksud untuk menyalahkan, kebanyakan Guru hanya memberikan materi yang berorientasi agar siswa dapat mengerjakan soal-soal dengan lancar dan mendapatkan nilai yang tinggi dan memuaskan. "Pembelajaran matematika di sekolah tidak dapat dilepaskan dari pendekatan yang digunakan oleh guru. Dan pendekatan tersebut biasanya dipengaruhi oleh pemahaman guru tentang sifat matematika, bukan oleh apa yang diyakini paling baik untuk proses pembelajaran matematika di kelas. Guru yang memandang matematika sebagai produk yang sudah jadi akan mengarahkan proses pembelajaran siswa untuk menerima pengetahuan yang sudah jadi. Guru akan cenderung mengisi pikiran siswa dengan sesuatu yang sudah jadi. Sementara, guru yang memandang bahwa matematika merupakan suatu proses akan lebih menekankan aspek proses daripada aspek produk dalam pembelajaran matematika." (Marpaung, 1998).
 
dikutip dari 109high.blogspot.com 
 
< Sebelumnya

Random Gallery

Pengunjung

Saat ini ada 20 pengunjung yang online