|
Perkembangan tehnologi komunikasi dan informasi yang begitu pesat ternyata tidak selalu berpengaruh positif terhadap perkembangan pendidikan, khususnya di lingkungan peserta didik baik itu SD, SMP ataupun SMA.
Mudahnya mengakses internet bagi siswa cenderung banyak digunakan untuk hal-hal yang negatif, misalnya untuk mencari “teman” catting, mencari gambar-gambar terlarang dan hal lain yang negatif. Media cetak mulai kurang diminati karena berbagai berita menjadi lebih mudah dan efisien didapat dari internet, sehingga ada kecenderungan media cetak mengangkat berita-berita yang sensasional, seperti perilaku negatif siswa terutama pada sekolah-sekolah yang favorit.
Disisi lain dunia pendidikan sangat mengharap ada pemberitaan yang seimbang antara berita-berita yang negatif dengan berita-berita yang positif, sehingga mendorong motivasi guru ataupun siswa untuk berkompetisi dalam mengejar prestasi.
Sering munculnya berita-berita tentang kenakalan remaja seperti perkelahian pelajar, video porno pelajar dan perilaku negatif lainnya menjadikan hal-hal tersebut adalah merupakan kenakalan yang biasa bagi remaja, sehingga merekapun kalau melakukan menjadi wajar. Media televisi juga punya andil besar dalam proses perkembangan perilaku remaja, terutama dalam berpakaian, model rambut, berbicara, bersikap, bergaul dengan teman atau pacar dan perilaku lainnya, remaja selalu mengikuti tren yang ada di televisi. Bahkan ketika berada di sekolahpun siswa lebih banyak berbicara tentang sinetron atau berita tren yang ada di televisi dibandingkan berbicara tentang pelajaran sekolah. Sehingga ketika pelajaran berlangsung sangat sulit bagi siswa dapat memahami materi pelajaran yang sedang diikuti, karena perbincangan sinetron atau berita selebritis lebih menarik dan asyik untuk dibicarakan. Ini merupakan tantangan yang berat bagi para guru dan aktifis pendidikan. Bahkan ketika sekolah kami siswanya diissuekan terkait dengan berita video porno, wartawan elektronik ataupun media cetak dengan cepat berbondong-bondong untuk meliput, sedangkan disaat siswa meraih berbagai prestasi baik itu ditingkat Kabupaten, Propinsi bahkan ditingkat Nasional tak ada seorang wartawanpun yang datang meliput. Pernyataan Kepala Sekolah yang telah menegaskan bahwa siswa tersebut bukan siswanya tak dihiraukan. Dan setelah dilakukan identifikasi oleh POLRES Kendal ternyata memang tidak benar. Saya selaku guru sangat prihatin dengan perkembangan ini, saya berharap kepada para wartawan baik dari media cetak ataupun media elektronik agar seimbang dalam meliput berita, jangan hanya meliput berita tentang pelajar yang jelek-jelek saja apalagi belum terbukti kebenarannya, tapi berita yang positif juga diliput, agar siswa termotivasi dalam berkompetisi meraih prestasi. (Humas : Znl Arf/9/5/09) |