|
Ditulis oleh Webmaster
|
|
Senin, 11 Juni 2007 |
|
Banyak tanaman di Indonesia ini yang sebenarnya dapat memberikan banyak manfaat, namun belum dibudidayakan secara khusus. Salah satu diantaranya adalah belimbing wuluh (Averhoa Bilimbi) Selama ini, yangsering menggunakan belimbing wuluh adalah masyarakat Aceh. Pada umumnya, mereka mengolah belimbing wuluh menjadi penyedap rasa, yang disebut asam sunti. Selain itu mereka juga menggunakan air belimbing wuluh yang diperoleh dari proses pembuatan asam sunti itu untuk mengawetkan ikan dan daging. |
|
Baca selengkapnya...
|
|
|
Ditulis oleh Webmaster
|
|
Senin, 11 Juni 2007 |
|
Keberadaan srikaya melimpah di daerah kami hingga kini pemanfaatannya masih belum banyak dikenal sementara orang cuma menganggapnya sebagai buah yang dapat di makan dan memiliki rasa lezat dan enak. Mereka membuang biji srikaya begitu saja tanpa mengetahui manfaatnya, padahal biji/daun srikaya menurut buku petunjuk "Tanam Berkasiat Obat di Indonesia" oleh Hembing dinyatakan bahwa niji/daun srikaya mengandung racun yang dapat digunakan untuk membunuh kutu hewan (anjing). Dari situ kami mendapatkan masalah apakah hama (ulat) pada jagung dapat diberantas dengan ekstrak daun/biji srikaya. Berdasarkan buku tersebut maka jika ekstrak daun/biji srikaya sebagai pestisida itu mengandung racun, bila disemprotkan pada hama akan mati. |
|
Baca selengkapnya...
|
|
|
Ditulis oleh Webmaster
|
|
Senin, 11 Juni 2007 |
|
Pandangan manusia tentang rumah tinggal mengalami perkembangan seiring dengan kemajuan peradaban dan teknologi. Bila pada awalnya sebuah rumah hanya berperan sebagai pemenuh kebutuhan dasar, maka saat ini semua itu telah mengalami transformasi fungsi menjadi alat untuk menampilkan citra diri (aktualisasi) pemiliknya. Pemilihan gaya bangunan sebuah rumah tinggal tidak lagi mengikuti tatanan-tatanan tersebut diatas. Akhirnya membawa konsekuensi antara lain : pengeluaran tambahan biaya untuk menciptakan kenyamanan bertempat tinggal. |
|
Baca selengkapnya...
|
|
|
Ditulis oleh Webmaster
|
|
Senin, 11 Juni 2007 |
|
Kita mengetahui bahwa negara kita masih mengalami masalah kekurangan gizi seperti adanya gejala kuashiorkor, marasmus, dan busung lapar. Hal ini disebabkan oleh rendahnya gizi makanan yang dikonsumsi oleh masyarakat khususnya bagi kalangan ekonomi lemah. Dengan latar belakang itulah maka peneliti melakukan penelitian tentang kerupuk berprotein tinggi dari daging kijing (Pseudodon vandenbushianus) |
|
Baca selengkapnya...
|
|
|
Ditulis oleh Webmaster
|
|
Senin, 11 Juni 2007 |
|
Penelitian ini bertujuan untuk menciptakan tempe jenis baru yang mempunyai kandungan gizi hampir sama dengan tempe kedelai. Yang dijadikan acuan kadar gizi antara lain kadaar protein, lemak, daan karbohidrat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen, dan angket. Dari hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa kualitas tempe gude hampir sama dengan kualitas tempe kedelai. Dengan hasil yang diperoleh tersebut maka tempe gude masih layak dikonsumsi karena mempunyai kandungan protein, lemak, dan karbohidrat yang cukup. Di samping itu juga diperoleh bahwa tempe gude dapat dibuat berdasarkan teknik pembuatan tempe kedelai. Jadi tempe gude tidak memerlukan teknik pengolahan khusus. Dengan hasil tersebut maka telah diperoleh tempe gude yang merupakan alternatif tempe yang berprotein tinggi. |
|
|
Ditulis oleh Webmaster
|
|
Senin, 11 Juni 2007 |
|
Daun sirih (Piper betle) merupakan sumber daya alam hayati yang terdapat dalam jumlah cukup banyak. Masyarakat pedesaan banyak menggunakan daun sirih (Piper betle) sebagai bahan obat, misalnya obat untuk batuk, mimisan, dan sakit gigi. Bakteri dalam aktivitasnya melakukan pernapasan, pembusukan, atau melakukan penguraian makanan. Bakteri tersebut ada yang patogen ada pula yang apatogen. Akibat dari bakteri yang patogen yang melakukan fermentasi dan pembusukan di dalam mulut, kesehatan gigi dan mulut menjadi terganggu. |
|
Baca selengkapnya...
|
|
|
|
<< Mulai < Sebelumnya 1 2 Selanjutnya > Akhir >>
|
| Hasil 1 - 10 dari 20 |